Monday, November 17, 2008

...Hwahaha..Nemu Ulasan Gua Buat 24jam Hits 2.....!!!!












Jurnal Suatu Hari Di Warungku
June 27th, 2007 by kampus24jamhits

Jam masih menunjukkan kira-kira pukul 4 sore, ketika tiba-tiba dari menara terdengar paduan suara “Hore Hore Hore Hore Ho..”. suara dari radio menara ini sekilas seperti mars lagu-lagu komunis…sangat gegap gempita dengan syairnya yang penuh absurditas makna…



Sambil memesan es cappuccino, kuping kembali dihentakkan lagi oleh musik kontemporer Post Modern Experiment Quartet…what the hell…!! Nada-nada rumit dan sangat kompleksitas memenuhi rongga pendengaran saya, walau saya akui kuping saya dimanjakan akan teknik dan imporisasi permainannya. Inilah musik yang tanpa syair bisa menghipnotis lamunan saya,…bravo to Post Modern Experiment Quartet…


Tak lama kemudian Karon N Roll dengan raungan gitarnya Pepeng memindahkan lamunan saya pada masa masa dimana musik rock n roll, jaket jeans belel, rambut gondrong, muka brangasan (yang kebetulan bisa diwakili oleh vokalisnya) menjadi idola para kawula muda pada zaman dahulu kala,… "infra bercinta", suatu kalimat metafora dari berzinah karena nafsu ingin bercinta…berbicara cinta tak akan habis dikupas walau dengan berjuta-juta kata yang ada, karena cinta bukan hanya sekedar kata namun yang terpenting adalah rasa.



Hal ini juga yang mewarnai Emily Rose dalam “Brutallity of Life” dimana nuansa ketidakteraturan hadir dalam syair dan nada di kuping saya.


Namun dengan seteguk es cappuccino, segala kepenatan kepenatan itu reda sudah. Apalagi ketika Bikinie’s menyeruak hadir dengan “C’mon”nya, tergambar di benak suara wanita yang resah akan kehidupan pribadinya yang membosankan, walaupun dalam setiap pertunjukannya, saya sering terbius gerakan pinggul penyanyinya… (you have a great hip, baby…)



Tanpa disadari, tiba-tiba di sekeliling saya dipenuhi aroma asap putih yang bisa menggapai nirwana… Jambronk & D’Woles mengayunkan syair-syair keresahan dan kegundahan yang dialaminya dalam “Jakarta Metropolis”… dan asap-asap putih tadi seakan bisa menghadirkan metropolis yang didambanya…


Seperti sudah menjadi mekanisme sendiri, dimana dampak dari asap nirwana tadi membuat kita menerawang dan perputaran terasa lambat bagai gerakan slow motion dalam film-film… ini pula yang saya rasakan ketika It’s Different Class membawakan “Touch Me”.



Dalam sekejap, kuping kembali digetarkan oleh gemuruh Tetabuhan Lorong yang menampilkan beat-beat yang sering terdengar dalam hiruk pikuknya pesta-pesta dunia gemerlapan… trek..trek..dung..bes..bes.. Saya rindu suasana pesta-pesta itu walau semu.


Masih dalam membayangkan suatu pesta, saya kembali tersenyum simpul sendiri sambil membayangkan seorang laki-laki merayu seorang nona untuk mengajaknya berdansa.. itulah Oldpaper dalam “Nona”, hehehehe..he.. terasa seperti jalinan cerita yang berkesinambungan rupanya.



Sekitarku mulai terlihat sepi, lembayung surya serasa ciptakan irama symphoni.. suara emas dari The Only mampu menghanyutkan saya pada kisah cinta menawan… yang dilantunkan dengan kata-kata dan nada yang tak kalah menerawang jauh.


Padangan lalu bergeser melihat Rori (kucing sakti yang sakit)… dentuman harmonisasi beat dari Goodnight Electric yang sangat robotic bisa terpampang jelas.. Melihat Rori berjalan, seakan-akan mengikuti gaya robotic-nya Batman cs. Heh…fenomena apa ini? Apakah Rori sedang depresi? Pertanyaan itu membayangi saya saat lagu “Akal Setan” dari Prilaku Menyimpank terdengar… depresi dan akal setan?



Baso Pa’E pun akhirnya datang dan menjadi teman di senja yang sepi ini, dan dengan menikmatinya bisa melupakan wacana…depresi dan akal setan tadi… Emang gua pikirin!!!


Mulut hampir tersedak ketika keinginan tertawa tak bisa ditahan lagi..lagu Kaneshiba “A Minor” memaksa saya harus tertawa pada saat itu juga..Titik..



Saya tak bisa membayangkan bahwa ada orang yang bisa membuat lagu sepraktis, sesimple, dan yang lebih..seenak ini… gilaaaa. Dengan segenap rasa hormat kusandangkan predikat jenius pada mereka.


Tawa saya masih saja bergema, walau Naif sudah hadir dengan “Ceriakan Dunia”…dalam sendiri ini, saya merasa ceria rupanya…hahahaha…saya masih tak habis pikir pada Kaneshiba. Enak abis…hahahahaha..ha..



Senja makin meninggi, namun Toket Song dengan “Morin Yang Moron” masih bisa menambah volume tawa saya… Sejenak saya terkenang bahwa pada zaman dahulu kala pernah ada grup yang bernama Kembar Grup… apakah yang saya dengar ini reinkarnasinya??? (btw, ada yang tahu Kembar Grup? Kalo belom, lu cari dah… gua yakin elu bakal ketawa lebih lepas lagi…ini serius)


“Nothing To Fear” dari White Shoes And The Couples Company seakan menjadi akhir dari sore ini, karena beduk maghrib telah tiba dan suara maghrib dari menara telah dimatikan.



Sebenarnya masih ada satu lagi yang tertinggal, yaitu Afterglow dengan “Mistery of Love”, namun entah mengapa, baiknya tak usah lagi kita bahas karena saya berpendapat biarlah cinta menjadi misteri…


Di kesendirian yang gelap ini mulai terasa…sepertinya yang dinantikan tak akan kunjung datang…ah sudahlah.





Medio, Juni 2007

Ricky Malau

3 comments:

Tiffanikoe said...

o...jd goyangan pinggul vocalis bikinies nih...hehehehehee....

TATA BAHASA said...

hm.. hahaha kebaca lo ! ur word such a full of tricky.. nanti aja kalo ketemu.

Rahmat said...

another way to make an album review..ato press relase hahaha... oom ricky pinter milih kata2 nya yaa,,hehehe...